Maksiat batin yang menimbulkan dosa batin adalah sangat berbahaya, karena dia tidak kelihatan dan berada pada diri manusia itu sendiri. Maksiat batin inilah yang menimbulkan dan membangkitkan maksiat lahir yang berbentuk kejahatan-kejahatan, yang dilakukan oleh anggota badan lahir. Maksiat batin tumbuh dan berkembang oleh sebab jarang disucikan atau tidak pernah disucikan.
Syekh Amin Al Kurdi mengatkan bahwa maksiat batin itu sebagai sifat-sifat tercela dan itu merupakan najis-najis maknawiyah yang tidak mungkin orang mendekatkan diri kepada Allah sebelum disucikan. Sebagaimana halnya tidak mungkin seorang mendekatkan diri kepada Allah, kalau najis-najis As Shuriyah (najis materi) disucikan terlebih dahulu. Sifat-sifat tercela yang mengotori diri rohani manusia itu banyak sekali, antara lain, hasad (iri hati), haqad (dengki), kibir (sombong, takabur), ujub (bangga diri), bakhil (kikir), riya (pamer), hubbul mal (cinta harta), hubbul jah (cinta pangkat), tafaakhur (bangga diri), ghadlab (pemarah), ghibah (pengumpat), namimah (ngerumpi keburukan orang), kizib (dusta), kasratul kalam (banyak bicara), dan lain-lain.
Pusat dari segala sifat yang tercela tadi adalah hati nurani atau diri rohani manusia itu sendiri. Dalam kajian tasauf dan tarekat, dinamakan latifatul qalbi yang merupakan latifatul rabbaniyah, yaitu roh yang suci yang paling halus yang menjadi hakikat dari diri manusia. Itulah yang dinamakan diri yang sebenar diri. Latifatul qalbi merupakan induk latifah-latifah yang lain. Dengan dialah kita dapat mendekaatkan diri kepada Allah SWT, manakala dia telah dibersihkan dari kotoran-kotoran lahir dan batin, kemudian diisi dengan zikrullah. Selanjutnya *
Menebar Kebaikan dan Kesejahteraan (Salam)
Tampilkan postingan dengan label dosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dosa. Tampilkan semua postingan
Senin, 29 Juli 2013
Mesucikan diri dari dosa batin (Takhalii 3)
Label:
bangga diri,
batin,
dengki,
diri,
disucikan,
dosa,
iri hati,
kejahatan,
kikir,
maknawiyah,
maksiat,
Mesucikan,
najis,
pamer,
pemarah,
sangat berbahaya,
sombong,
Syekh Amin Al Kurdi,
Takhalli,
tercela
Mensucikan Diri Dari Dosa Lahir (Takhalli 2)
Maksiat lahir adalah segala perbuatan yang dikerjakan oleh anggota badan manusia yang merusak diri sendiri atau orang lain, yang menimbulkan pengorbanan yang berbentuk benda, pikiran atau perasaan. Maksiat lahir ini melahirkan kejahatan-kejahatan yang merusak seseorang atau mengacaukan masyarakat.
Allah menjadikan anggota tubuh manusia adalah sebagai rahmat untuk memperoleh nikmat dalam kehidupan manusia di dunia ini dan sekaligus sebagai amanat supaya manusia memanfaatkannya untuk mendapatkan ridla Allah SWT.
Pada garis besarnya ada 7 (tujuh) anggota badan manusia yang kalau dimanfaatkan untuk kebaikan maka dia merupakan rahmat dan nikmat, tetapi kalau dilaksanakan untuk kejahatan maka dia merupakan kedurhakaan dan kekufuran. Ketujuh anggota itu adalah : Selanjutnya *
Allah menjadikan anggota tubuh manusia adalah sebagai rahmat untuk memperoleh nikmat dalam kehidupan manusia di dunia ini dan sekaligus sebagai amanat supaya manusia memanfaatkannya untuk mendapatkan ridla Allah SWT.
Pada garis besarnya ada 7 (tujuh) anggota badan manusia yang kalau dimanfaatkan untuk kebaikan maka dia merupakan rahmat dan nikmat, tetapi kalau dilaksanakan untuk kejahatan maka dia merupakan kedurhakaan dan kekufuran. Ketujuh anggota itu adalah : Selanjutnya *
Takhalli
Dalam Tarekat ada 3 (tiga) metode, sekaligus merupakan tiga tingkatan untuk membersihkan jasadi dan diri rohani, yaitu takhalli, tahalli dan tajalli.
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pengamal tarekat atau salik adalah taubat dan istighfar dari dosa besar maupun dosa kecil. Si salik harus berniat, berjanji dan ber’azam untuk tidak lagi mengulangi dosa-dosa itu untuk selamanya. Seiring dengan itu si salik berniat, berjanji dan ber’azam pula, untuk mengisi seluruh hidup dan kehidupannya dengan ‘akmalush shalihat yang wajib maupun yang sunat.
Taubat dan istighfar bagi si salik ibarat suatu fundamen pada suatu bangunan atau ibarat akar dari suatu pohon. Tidak mungkin ada bangunan tanpa fondamen dan tak mungkin ada pohon tanpa akar.
Demikian pula halnya, tidak mungkin jadi pengamal tarekat tanpa taubat nashuha dan istighfar yang sungguh-sungguh dihayati dan dilaksanakan. Bersihkan dulu lobang pondasi, sebelum meletakkan batu pertama bangunan. Bersihkan dulu lobang tempat menanam pohon sebelum pohon itu ditanam. Bersihkan dulu lobang diri rohani si salik, sebelum melangkah mengamalkan peramalan tarekat.
Pembersihan dan pengosongan diri rohani dari segala dosa dan noda dari sifat buruk dan tercela, menghentikan segala perbuatan fakhsyak dan mungkar yang merusak, dan seterusnya. Itulah kajian yang dinamakan takhalli. Selanjutnya *
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pengamal tarekat atau salik adalah taubat dan istighfar dari dosa besar maupun dosa kecil. Si salik harus berniat, berjanji dan ber’azam untuk tidak lagi mengulangi dosa-dosa itu untuk selamanya. Seiring dengan itu si salik berniat, berjanji dan ber’azam pula, untuk mengisi seluruh hidup dan kehidupannya dengan ‘akmalush shalihat yang wajib maupun yang sunat.
Taubat dan istighfar bagi si salik ibarat suatu fundamen pada suatu bangunan atau ibarat akar dari suatu pohon. Tidak mungkin ada bangunan tanpa fondamen dan tak mungkin ada pohon tanpa akar.
Demikian pula halnya, tidak mungkin jadi pengamal tarekat tanpa taubat nashuha dan istighfar yang sungguh-sungguh dihayati dan dilaksanakan. Bersihkan dulu lobang pondasi, sebelum meletakkan batu pertama bangunan. Bersihkan dulu lobang tempat menanam pohon sebelum pohon itu ditanam. Bersihkan dulu lobang diri rohani si salik, sebelum melangkah mengamalkan peramalan tarekat.
Pembersihan dan pengosongan diri rohani dari segala dosa dan noda dari sifat buruk dan tercela, menghentikan segala perbuatan fakhsyak dan mungkar yang merusak, dan seterusnya. Itulah kajian yang dinamakan takhalli. Selanjutnya *
Label:
‘akmalush shalihat,
akar,
ber’azam,
berjanji,
berniat,
dosa,
fakhsyak,
fundamen,
istighfar,
mengulangi,
mungkar,
nashuha,
tahalli,
tajalli,
Takhalli,
tarekat,
taubat
Langganan:
Postingan (Atom)