/* embed JW Player Code */ /* embed JW Player Code */
Tampilkan postingan dengan label Takhalli. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Takhalli. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Juli 2013

Tajalli (1) - From SufiMuda

Tajalli adalah orang-orang yang telah melaksanakan takhalli dan tahalli secara baik dan sempurna dengan riyadhah dan mujahadah yang terus menerus, sehingga dia sampai kepada tingkatan hakikat yang akhirnya menjadi kekasih Allah SWT. Pengamal tarekat yang sampai kepada tingkatan ini, terbukalah hijabnya dan telah dekatlah dia kepad Allah SWT, sehingga dia mengetahui siapa yang dia imani, kepada siapa dia beribadat dan mengabdi, yaitu Allah SWT yang maha agung dan maha tinggi dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya.

Begitu juga orang yang telah sampai ke tingkat ini, telah mengetahui hakikat kenabian dan kerasulan dari Allah SWT dan kesempurnaan sahabat-sahabatnya. Mereka mengetahui dan bahkan menghayati apa yang telah disampaikan Rusulullah SAW, apa yang akan ditemui manusia setelah mati, yaitu antara lain nikmat dan azab kubur, kiamat dan keadaannya, neraka dan azabnya, surga dengan nikmatnya, dan sebagainya. Dengan kata lain pengamal tarekat yang sudah sampai ke tingkat ini, telah terbukalah hijab (kasyaf) baginya apa yang dikehendaki oleh Allah SWT sejak dari alam yang tinggi sampai ke alam yang rendah, sejak dari kejadian yang telah lalu sampai dengan kejadian-kejadian yang akan datang (Amin Al Kurdi 1994 : 364-365).

Sesungguhnya orang yang telah sampai ke tingkat tajalli tertinggi, dia telah melewati fase-fase, riyadhah dan mujahadah yang sungguh-sungguh dan terus menerus, sehingga kehidupannya selalu dalam keadaan muraqabah yang terus menerus, akhiranya memperoleh musyahadah, lalu makrifat dan akhirnya fana fillah.

Orang yang fana fillah, tajalli-lah baginya Nur Uluhiyah, sehingga dia mengetahui rahasia-rahasia yang ghaib, karena telah hilang sifat-sifat basyariyahnya yang menjadi hijab untuk dapat kasyaf. Selanjutnya *

Senin, 29 Juli 2013

Mesucikan diri dari dosa batin (Takhalii 3)

Maksiat batin yang menimbulkan dosa batin adalah sangat berbahaya, karena dia tidak kelihatan dan berada pada diri manusia itu sendiri. Maksiat batin inilah yang menimbulkan dan membangkitkan maksiat lahir yang berbentuk kejahatan-kejahatan, yang dilakukan oleh anggota badan lahir. Maksiat batin tumbuh dan berkembang oleh sebab jarang disucikan atau tidak pernah disucikan.

Syekh Amin Al Kurdi mengatkan bahwa maksiat batin itu sebagai sifat-sifat tercela dan itu merupakan najis-najis maknawiyah yang tidak mungkin orang mendekatkan diri kepada Allah sebelum disucikan. Sebagaimana halnya tidak mungkin seorang mendekatkan diri kepada Allah, kalau najis-najis As Shuriyah (najis materi) disucikan terlebih dahulu. Sifat-sifat tercela yang mengotori diri rohani manusia itu banyak sekali, antara lain, hasad (iri hati), haqad (dengki), kibir (sombong, takabur), ujub (bangga diri), bakhil (kikir), riya (pamer), hubbul mal (cinta harta), hubbul jah (cinta pangkat), tafaakhur (bangga diri), ghadlab (pemarah), ghibah (pengumpat), namimah (ngerumpi keburukan orang), kizib (dusta), kasratul kalam (banyak bicara), dan lain-lain.

Pusat dari segala sifat yang tercela tadi adalah hati nurani atau diri rohani manusia itu sendiri. Dalam kajian tasauf dan tarekat, dinamakan latifatul qalbi yang merupakan latifatul rabbaniyah, yaitu roh yang suci yang paling halus yang menjadi hakikat dari diri manusia. Itulah yang dinamakan diri yang sebenar diri. Latifatul qalbi merupakan induk latifah-latifah yang lain. Dengan dialah kita dapat mendekaatkan diri kepada Allah SWT, manakala dia telah dibersihkan dari kotoran-kotoran lahir dan batin, kemudian diisi dengan zikrullah. Selanjutnya *

Mensucikan Diri Dari Dosa Lahir (Takhalli 2)

Maksiat lahir adalah segala perbuatan yang dikerjakan oleh anggota badan manusia yang merusak diri sendiri atau orang lain, yang menimbulkan pengorbanan yang berbentuk benda, pikiran atau perasaan. Maksiat lahir ini melahirkan kejahatan-kejahatan yang merusak seseorang atau mengacaukan masyarakat.

Allah menjadikan anggota tubuh manusia adalah sebagai rahmat untuk memperoleh nikmat dalam kehidupan manusia di dunia ini dan sekaligus sebagai amanat supaya manusia memanfaatkannya untuk mendapatkan ridla Allah SWT.

Pada garis besarnya ada 7 (tujuh) anggota badan manusia yang kalau dimanfaatkan untuk kebaikan maka dia merupakan rahmat dan nikmat, tetapi kalau dilaksanakan untuk kejahatan maka dia merupakan kedurhakaan dan kekufuran. Ketujuh anggota itu adalah : Selanjutnya *

Takhalli

Dalam Tarekat ada 3 (tiga) metode, sekaligus merupakan tiga tingkatan untuk membersihkan jasadi dan diri rohani, yaitu takhalli, tahalli dan tajalli.

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh pengamal tarekat atau salik adalah taubat dan istighfar dari dosa besar maupun dosa kecil. Si salik harus berniat, berjanji dan ber’azam untuk tidak lagi mengulangi dosa-dosa itu untuk selamanya. Seiring dengan itu si salik berniat, berjanji dan ber’azam pula, untuk mengisi seluruh hidup dan kehidupannya dengan ‘akmalush shalihat yang wajib maupun yang sunat.

Taubat dan istighfar bagi si salik ibarat suatu fundamen pada suatu bangunan atau ibarat akar dari suatu pohon. Tidak mungkin ada bangunan tanpa fondamen dan tak mungkin ada pohon tanpa akar.

Demikian pula halnya, tidak mungkin jadi pengamal tarekat tanpa taubat nashuha dan istighfar yang sungguh-sungguh dihayati dan dilaksanakan. Bersihkan dulu lobang pondasi, sebelum meletakkan batu pertama bangunan. Bersihkan dulu lobang tempat menanam pohon sebelum pohon itu ditanam. Bersihkan dulu lobang diri rohani si salik, sebelum melangkah mengamalkan peramalan tarekat.

Pembersihan dan pengosongan diri rohani dari segala dosa dan noda dari sifat buruk dan tercela, menghentikan segala perbuatan fakhsyak dan mungkar yang merusak, dan seterusnya. Itulah kajian yang dinamakan takhalli. Selanjutnya *

Menemukan Rahasia Tuhan Dalam Biji Pepaya

Suatu hari Guru Sufi sedang duduk santai di teras rumah, kemudian Beliau memanggil salah seorang murid untuk membersihkan sisa-sisa kulit dan biji papaya yang terletak di sudut ruangan. “Tolong dibuang sampah sisa pepaya yang dikupas tadi malam biar nanti ruangan ini tidak bersemut”, kata Guru Sufi.

“Baik Guru”, kata si murid.

Ketika si murid memungut sampah papaya, Guru nya berkata, “Coba kau ambil biji papaya, kau amat-amati dengan teliti”. Si murid kemudian mengambil biji papaya dan mengamatinya seperti yang diperintahkan Guru.

“Apakah ada buah di dalam?” Tanya Guru. Maksudnya Guru menanyakan apakah ada buah papaya di dalam biji papaya. Si murid diam tidak bisa menjawab, kemudian Gurunya berkata, “Ada, bakal buah namanya, bakal daun juga ada bahkan seluruh batang papaya ada di dalam biji yang kamu pegang itu”.

“Syaratnya biji itu kamu tanam, disiram, di pupuk dan di rawat sampai dia menjadi pohon papaya sehingga menghasilkan buah”. Kata Guru.

“Semua ada disana!” kata Guru.

Kemudian Guru melanjutkan, “Begitu juga dengan dzikir, rahasianya sudah ada disana, sudah ditanam sejak awal kau diterima menjadi murid. Ilmu ini adalah bermula dari akhir bukan bermula dari awal. Saat kau gabungkan rohani mu dengan Guru, itu lah akhir dari ilmu ini. Untuk bisa akal menerima apa yang kamu alami, itulah memerlukan waktu, memerlukan kesabaran, diperlukan mujahadah untuk melawan diri sendiri”

“Proses ini kemudian di uraikan menjadi 3 tahapan yaitu : Takhalli, Tahali, Tajaalli. Ingat tentang biji papaya, di tanam, di rawat akhirya akan terukir abadi nama-Nya dalam qalbu mu”. Kata Guru…

“Semua ada disana” yang di ucapkan Guru Sufi mempunyai makna yang mendalam. Kalau seluruh rahasia pepaya ada di dalam biji, “disana” seperti yang ditunjuk Guru, lalu di mana “semua ada disana”, letak rahasia Tuhan?. Sumber *

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...