Perpaduan antara hati nurani dan akal itulah yang dapat sampai kepada hakikat dan dapat naik memperoleh tajalli tertinggi. Dengan akal saja orang tidak akan sampai memperoleh derajat itu, sebagaimana halnya orang juga tidak akan sampai ke derajat itu, kalau hanya dengan kalbu hati nurani tanpa akal. Manusia ulul albab adalah memadukan kedua daya rohani yang amat besar dan menentukan itu, yaitu daya akal dan daya kalbu hati nurani. Itulah manusia yang dapat melaksanakan pola ajaran dan amal Dienul Islam dengan utuh dan sempurna.
Sesungguhnya proses takhalli, tahalli dan tajalli itu, tidaklah harus selesai satu tingkat atau satu tahap baru memasuki tingkat atau tahap selanjutnya. Pelaksanaannya adalah bersama-sama, sesuai dengan riyadhah dan mujahadah yang dilaksanakan dan tergantung pula kepada rahmat dan karunia Allah. Dari kajian ini sesungguhnya setiap salik yang dengan ikhlas dan taslim melaksanakan zikir dengan metode tarekatullah, telah memperoleh hasil yang bertahap-tahap itu. Dengan kata lain, setiap salik dengan katagori ikhlas dan taslim disertai dengan riyadhah dan mujahadah yang sungguh-sungguh dan lestari, telah memperoleh tajalli, tetapi tingkatannya tidak tajalli tertinggi, seperti yang dijelaskan di atas tadi.
Bila sudah asyik beramal dan di dalam keasyikan itu kita meraskan keagungan dan kebesaran Allah mulai dari af’al, asma, sifat dan zat Allah, sesungguhnya kita sudah tajalli dalam maqam, derajat yang berbeda-beda. Yang sampai ke derajad wali tidak banyak, tetapi yang sampai ke derajat tingkat orang yang saleh dan taat pasti lebih banyak. Selanjutnya *
Menebar Kebaikan dan Kesejahteraan (Salam)
Tampilkan postingan dengan label Hakikat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hakikat. Tampilkan semua postingan
Rabu, 31 Juli 2013
Tajalli (3) From SufiMuda
Tajalli (1) - From SufiMuda
Tajalli adalah orang-orang yang telah melaksanakan takhalli dan tahalli secara baik dan sempurna dengan riyadhah dan mujahadah yang terus menerus, sehingga dia sampai kepada tingkatan hakikat yang akhirnya menjadi kekasih Allah SWT. Pengamal tarekat yang sampai kepada tingkatan ini, terbukalah hijabnya dan telah dekatlah dia kepad Allah SWT, sehingga dia mengetahui siapa yang dia imani, kepada siapa dia beribadat dan mengabdi, yaitu Allah SWT yang maha agung dan maha tinggi dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
Begitu juga orang yang telah sampai ke tingkat ini, telah mengetahui hakikat kenabian dan kerasulan dari Allah SWT dan kesempurnaan sahabat-sahabatnya. Mereka mengetahui dan bahkan menghayati apa yang telah disampaikan Rusulullah SAW, apa yang akan ditemui manusia setelah mati, yaitu antara lain nikmat dan azab kubur, kiamat dan keadaannya, neraka dan azabnya, surga dengan nikmatnya, dan sebagainya. Dengan kata lain pengamal tarekat yang sudah sampai ke tingkat ini, telah terbukalah hijab (kasyaf) baginya apa yang dikehendaki oleh Allah SWT sejak dari alam yang tinggi sampai ke alam yang rendah, sejak dari kejadian yang telah lalu sampai dengan kejadian-kejadian yang akan datang (Amin Al Kurdi 1994 : 364-365).
Sesungguhnya orang yang telah sampai ke tingkat tajalli tertinggi, dia telah melewati fase-fase, riyadhah dan mujahadah yang sungguh-sungguh dan terus menerus, sehingga kehidupannya selalu dalam keadaan muraqabah yang terus menerus, akhiranya memperoleh musyahadah, lalu makrifat dan akhirnya fana fillah.
Orang yang fana fillah, tajalli-lah baginya Nur Uluhiyah, sehingga dia mengetahui rahasia-rahasia yang ghaib, karena telah hilang sifat-sifat basyariyahnya yang menjadi hijab untuk dapat kasyaf. Selanjutnya *
Begitu juga orang yang telah sampai ke tingkat ini, telah mengetahui hakikat kenabian dan kerasulan dari Allah SWT dan kesempurnaan sahabat-sahabatnya. Mereka mengetahui dan bahkan menghayati apa yang telah disampaikan Rusulullah SAW, apa yang akan ditemui manusia setelah mati, yaitu antara lain nikmat dan azab kubur, kiamat dan keadaannya, neraka dan azabnya, surga dengan nikmatnya, dan sebagainya. Dengan kata lain pengamal tarekat yang sudah sampai ke tingkat ini, telah terbukalah hijab (kasyaf) baginya apa yang dikehendaki oleh Allah SWT sejak dari alam yang tinggi sampai ke alam yang rendah, sejak dari kejadian yang telah lalu sampai dengan kejadian-kejadian yang akan datang (Amin Al Kurdi 1994 : 364-365).
Sesungguhnya orang yang telah sampai ke tingkat tajalli tertinggi, dia telah melewati fase-fase, riyadhah dan mujahadah yang sungguh-sungguh dan terus menerus, sehingga kehidupannya selalu dalam keadaan muraqabah yang terus menerus, akhiranya memperoleh musyahadah, lalu makrifat dan akhirnya fana fillah.
Orang yang fana fillah, tajalli-lah baginya Nur Uluhiyah, sehingga dia mengetahui rahasia-rahasia yang ghaib, karena telah hilang sifat-sifat basyariyahnya yang menjadi hijab untuk dapat kasyaf. Selanjutnya *
Selasa, 30 Juli 2013
Tahalli - From SufiMuda
Diri rohani yang yang telah dikosongkan dari sifat-sifat mazmumah yang tercela harus segera diisi dengan sifat-sifat mahmudah (terpuji). Seorang yang terus menerus mengisi diri rohaninya dengan sifat-sifat terpuji, yaitu dengan melaksanakan amalan-amalan saleh, baik yang wajib maupun yang sunat, yang dilaksanakan dengan penuh ikhlas dengan perasaan syukur, penuh tawakal seraya menghadapkan ridla Allah SWT, itulah yang dinamakan Tahalli.
Tahalli secara harfiah berarti mengisi dan menghiasi diri atau menyibukkan diri dengan sifat-sifat dan amal-amal terpuji yang digariskan dan ditetapkan dalam syariat Islam.
Pengisian diri rohani dengan sifat-sifat mahmudah dengan kegiatan-kegiatan ‘akmalush shalihat, adalah amat penting, karena kesibukan-kesibukan yang berbentuk amalan-amalan maksiat selama ini harus segera diganti dengan kesibukan-kesibukan baru, yaitu kegiatan amal kebaikan. Inilah yang dinamakan inabah. Inabah artinya kembali ke jalan yang hak atau benar, menggantikan kebiasaan yang buruk dengan kebiasaan yang baik.
Menurut Imam Al Ghazali, jiwa manuasia itu dapat dilatih, dapat dikuasai, sehingga bentuk dan arahnya berubah-ubah sesuai dengan yang kita kehendaki. Kita bentuk dan kita rubah sikap mental yang buruk menjadi sikap mental yang baik dan luhur dengan riyadhah dan mujahadah yang sungguh-sungguh.
Menurut ulama sufi, mengubah dan membentuk sikap mental itu, adalah dengan melaksanakan seluruh pola ajaran dan amalan Islam itu dengan sebaik-baiknya. Terutama sekali melaksanakan syariat, tarekat, hakikat dan makrifat dengan metode dan peramalan yang benar. Selanjutnya *
Tahalli secara harfiah berarti mengisi dan menghiasi diri atau menyibukkan diri dengan sifat-sifat dan amal-amal terpuji yang digariskan dan ditetapkan dalam syariat Islam.
Pengisian diri rohani dengan sifat-sifat mahmudah dengan kegiatan-kegiatan ‘akmalush shalihat, adalah amat penting, karena kesibukan-kesibukan yang berbentuk amalan-amalan maksiat selama ini harus segera diganti dengan kesibukan-kesibukan baru, yaitu kegiatan amal kebaikan. Inilah yang dinamakan inabah. Inabah artinya kembali ke jalan yang hak atau benar, menggantikan kebiasaan yang buruk dengan kebiasaan yang baik.
Menurut Imam Al Ghazali, jiwa manuasia itu dapat dilatih, dapat dikuasai, sehingga bentuk dan arahnya berubah-ubah sesuai dengan yang kita kehendaki. Kita bentuk dan kita rubah sikap mental yang buruk menjadi sikap mental yang baik dan luhur dengan riyadhah dan mujahadah yang sungguh-sungguh.
Menurut ulama sufi, mengubah dan membentuk sikap mental itu, adalah dengan melaksanakan seluruh pola ajaran dan amalan Islam itu dengan sebaik-baiknya. Terutama sekali melaksanakan syariat, tarekat, hakikat dan makrifat dengan metode dan peramalan yang benar. Selanjutnya *
Jumat, 19 Juli 2013
Memahami Hakikat Tuhan Lewat Kelapa
Sebenarnya tidak ada bahasa yang bisa mengungkapkan misteri tentang Tuhan dan tidak ada pula pembahasan yang bisa dengan sempurna menggambarkan hakikat Tuhan. Tuhan, dalam sepanjang sejarah peradaban manusia akan menjadi misteri dan akan terus misteri kalau proses pencariannya hanya dengan menggunakan ilmu akal semata. Untuk memudahkan manusia memahami hakikat Tuhan, maka di dalam kitab suci Tuhan memberikan perumpamaan-perumpamaan agar manusia lebih akrab mengenal-Nya.
Salah satu ungkapan hakikat Tuhan dalam al-Qur’an ada di dalam surat An-Nur, 35 :
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.
Baca selanjutnya *
Salah satu ungkapan hakikat Tuhan dalam al-Qur’an ada di dalam surat An-Nur, 35 :
Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.
Baca selanjutnya *
Langganan:
Postingan (Atom)
