/* embed JW Player Code */ /* embed JW Player Code */
Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 November 2013

Kisah Imam Al-Ghazali Berguru Kepada Tukang Sol Sepatu


Posted on November 15, 2013 by SufiMuda

Suatu malam disaat orang sedang terlelap, Syekh Abdul Wahab Rokan yang saat itu masih muda dan sedang berguru kepada Syekh Sulaiman Zuhdi di Jabbal Qubis Makkah sedang membersihkan kamar mandi Gurunya menggunakan kedua tangannya tanpa merasa jijik dan melakukan dengan penuh ikhlas. Di saat Beliau melakukan tersebut, tiba-tiba Guru Syekh Sulaiman Zuhdi lewat dan berkata, “Kelak tanganmu akan di cium raja-raja dunia”. Ucapan Gurunya itu dikemudian hari terbukti dengan banyak raja yang menjadi murid Beliau dan mencium tangan Beliau salah satunya adalah Sultan Musa al-Muazzamsyah, Raja di Kerajaan Langkat, Sumatera Utara.

Kisah berguru dalam ilmu hakikat mempunyai keunikan tersendiri, seperti kisah Sunan Kalijaga yang menjaga tongkat Gurunya dalam waktu lama, dengan itu Beliau lulus menjadi seorang murid. Berikut kisah Ulama Besar Imam Al-Ghazali memperoleh pencerahan bathin bertemu dengan pembimbing rohaninya, kisah ini saya di kutip dari Buku Tuntunan Mencapai Hidayah Ilahi hal. 177, 178. Karya Imam Al Ghazali dari web dokumenpemudatnqn.net. Selanjutnya *

Rabu, 13 November 2013

Tidak Ada Perantara Antara Manusia dengan Allah (Bag. 4)

Posted on November 13, 2013 by SufiMuda

Abu Bakar Siddiq khawatir kalau tidak memberi ketegasan, maka nanti orang akan tetap melakukan rabithah langsung kepada Nabi tanpa mau dibimbing oleh para khalifah Beliau, padahal syarat untuk bisa melakukan rabithah adalah seseorang harus mengenal betul Gurunya dan pernah hidup semasa Gurunya hidup.

Kita ummat Nabi yang hidup dalam rentang waktu 14 abad ini sebenarnya tidak ada masalah sama sekali tentang hubungan kita dengan Beliau. Jarak dan waktu hanya akan menghalangi jasmani dengan jasmani akan tetapi tidak mempengaruhi rohani dengan rohani. Rohani Rasulullah SAW akan tetap bisa membimbing ummatnya walaupun dalam rentang jarak ribuan tahun. Untuk bisa kontak dengan rohani Rasulullah SAW tentu kita harus mengenal salah seorang khalifah Beliau yang masih hidup di zaman ini, sebagai pembawa wasilah yang ada dalam diri Beliau, dengan cara ini maka kita akan bisa langsung berhubungan dengan Rasulullah SAW. Selanjutnya *

Kamis, 07 November 2013

Tidak Ada Perantara Antara Manusia dengan Allah (Bag. 2)

Dalam hadist Qudsi Allah berfirman,

“Jadikanlah dirimu beserta dengan Allah…”, 

ini perintah Allah yang utama. Setiap manusia berusaha dengan segenap kemampuannya, dengan ikhtiar ibadahnya untuk bisa senantiasa selalu beserta atau bersama dengan Allah. Karena tidak semua manusia mengetahui rahasia untuk berhubungan dengan Allah maka Allah memberikan rumus,

“Jika engkau belum bisa berhubungan dengan Allah maka adakanlah dirimu beserta dengan orang yang beserta dengan Allah, maka dialah yang mengantarkan dirimu kepada Allah”. 

Dari hadits Qudsi tersebut jelas bahwa Allah tidak menyuruh kita mengambil perantara tapi mencari orang yang bisa menuntun dan membimbing kita kepada-Nya dalam hal ini Nabi dan kemudian diteruskan oleh para Wali Allah.

Pengamal tarekat tidak pernah menjadikan Gurunya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, Guru Mursyid bertugas untuk membimbing, mengarahkan dan menuntun murid kepada jalan Allah, jalan yang sudah berulang kali di lewati oleh Sang Guru sehingga paham di mana jurang terjal dan di mana tikungan tajam sehingga para murid selamat sampai ke tempat tujuan. Selanjutnya *

Senin, 29 Juli 2013

Menemukan Rahasia Tuhan Dalam Biji Pepaya

Suatu hari Guru Sufi sedang duduk santai di teras rumah, kemudian Beliau memanggil salah seorang murid untuk membersihkan sisa-sisa kulit dan biji papaya yang terletak di sudut ruangan. “Tolong dibuang sampah sisa pepaya yang dikupas tadi malam biar nanti ruangan ini tidak bersemut”, kata Guru Sufi.

“Baik Guru”, kata si murid.

Ketika si murid memungut sampah papaya, Guru nya berkata, “Coba kau ambil biji papaya, kau amat-amati dengan teliti”. Si murid kemudian mengambil biji papaya dan mengamatinya seperti yang diperintahkan Guru.

“Apakah ada buah di dalam?” Tanya Guru. Maksudnya Guru menanyakan apakah ada buah papaya di dalam biji papaya. Si murid diam tidak bisa menjawab, kemudian Gurunya berkata, “Ada, bakal buah namanya, bakal daun juga ada bahkan seluruh batang papaya ada di dalam biji yang kamu pegang itu”.

“Syaratnya biji itu kamu tanam, disiram, di pupuk dan di rawat sampai dia menjadi pohon papaya sehingga menghasilkan buah”. Kata Guru.

“Semua ada disana!” kata Guru.

Kemudian Guru melanjutkan, “Begitu juga dengan dzikir, rahasianya sudah ada disana, sudah ditanam sejak awal kau diterima menjadi murid. Ilmu ini adalah bermula dari akhir bukan bermula dari awal. Saat kau gabungkan rohani mu dengan Guru, itu lah akhir dari ilmu ini. Untuk bisa akal menerima apa yang kamu alami, itulah memerlukan waktu, memerlukan kesabaran, diperlukan mujahadah untuk melawan diri sendiri”

“Proses ini kemudian di uraikan menjadi 3 tahapan yaitu : Takhalli, Tahali, Tajaalli. Ingat tentang biji papaya, di tanam, di rawat akhirya akan terukir abadi nama-Nya dalam qalbu mu”. Kata Guru…

“Semua ada disana” yang di ucapkan Guru Sufi mempunyai makna yang mendalam. Kalau seluruh rahasia pepaya ada di dalam biji, “disana” seperti yang ditunjuk Guru, lalu di mana “semua ada disana”, letak rahasia Tuhan?. Sumber *

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...